Total Tayangan Halaman

Jumat, 23 Maret 2012

STRES


Stres adalah suatu kondisi dimana transaksi antara individu dan lingkungannya mengarahkan individu mempersepsikan adanya kesenjangan antara tuntutan fisik atau psikologi dari suatu situasi tertentu dengan sumber daya biologis, psikologis dan sosial yang dimiliki individu (Lazarus dkk, dalam Sarafino, 2002). Lazarus (dalam Ogden, 2000) menyatakan stres melibatkan stresor dan respon individu terhadap stresor (strain). Stres adalah respon non-spesifik dari tubuh terhadap tuntutan apapun terhadap diri individu. Setiap tuntuan tersebut dalam tubuh akan membangkitkan respon tertentu (Seyle, dalam Kalat, 2005). Teori stres yang dikemukakan Seyle mencakup seluruh kejadian yang membawa perubahan dalam hidup individu. Seyle (dalam Warga, 1983) membagi stres menjadi dua tipe area yaitu eustres dan distres. Eustres adalah pengalaman stres yang menyenangkan, yang biasanya muncul ketika seseorang mendapatkan kesuksesan dan kemenangan. Distres adalah pengalaman stres yang menyakitkan atau tidak menyenangkan yang sifatnya mengancam dan biasanya muncul ketika seseorang mendapatkan kesuksesan dan kemenangan.

American Accreditation HealthCare Commission (2005) mendefinisikan stres sebagai suatu respon terhadap situasi atau faktor yang menimbulkan emosi negatif atau perubahan fisik atau kombinasi dari perubahan fisik dan emosi. Beberapa jenis stres cukup membantu karena menimbulkan motivasi bagi individu yang bersangkutan. Akan tetapi, stres yang berlebihan dapat mengganggu kehidupan, aktivitas dan kesehatan dari individu.

Aspek-aspek dalam Stres

Stresor yang dihadapi oleh individu akan menimbulkan respon atau reaksi dari individu baik secara fisiologis, psikologis dan sosial individu (Sarafino, 2002). Sarafino membagi aspek stres ke dalam dua aspek yaitu :

1. Aspek Biologis
Setiap orang yang dihadapkan pada kondisi atau situasi yang mengancam atau berbahaya, maka akan ada reaksi fisiologis dari tubuh terhadap stres yang ditimbulkan, seperti detak jantung yang meningkat. Seyle (dalam Sarafino, 2002) menyebutkan serangkaian reaksi fisiologis sebagai General Adaptation Syndrome (GAS) yang terdiri dari tiga level, yaitu:

 a. Reaksi Kegelisahan / Alarm Reaction
Merupakan tahap pertama respon tubuh (fight or flight) terhadap bahaya yang berfungsi memobilisasi sumber-sumber daya tubuh.

b. Tahap Pertahanan / Stages of Resistence
Jika stresor yang kuat terus berlanjut, tubuh akan mencoba untuk beradaptasi dengan stresor. Keterbangkitan fisik mulai berkurang, namun masih tetap lebih tinggi dari kondisi normal

c. Prilaku Sosial
Stres dapat mengubah prilaku seseorang terhadap orang lain. Dalam kondisi stres, sebagian orang bisa mengalami peningkatan dalam prilaku menolongnya. Hal ini mungkin disebabkan karena mereka memiliki tujuan yang membutuhkan kerjasama satu dengan yang lain. Pada kondisi stress yang lain, bisa menyebabkan seseorang kurang sosial, bahkan cenderung bermusuhan dengan orang lain. Burts et al (dalam Chang dkk, 2006) membagi perilaku stres anak ke dala dua jenis, antara lain :

1. Perilaku Stres Pasif
Terdiri dari empat subkategori yaitu :
a. Fisik, misalnya prilaku menarik diri
b. Wajah (Facial), misalnya mengerutkan wajah
c. Prilaku negatif / tidak merespon
d. Menjadi penonton saja / Onlooker

2. Perilaku Stres Aktif
Terdiri dari enam sub kategori, yaitu :
a. Automanipulation, misalnya menggaruk atau mencubit bagian tubuh sendiri.
b. Gerakan berulang
c. Gerakan menggoyang atau menggeliat
d. Prilaku merusak diri / Self destruction
e. Self with other action, misalnya memukul
f. Self with object action, misalnya merusak, menghancurkan atau bermain dengan kasar.

Dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek penting dari stres adalah bagaimana reaksi individu terhadap kondisi stres yang mereka alami. Reaksi umum terhadap stres meliputi reaksi fisiologis, emosi, kognitif dan prilaku.

Gejala-gejala Stres

Gejala-gejala stres dibagi dalam empat kategori menurut Fremont (2004), yaitu pikiran, perasaan, prilaku dan simptom fisik.

PIKIRAN
PERASAAN
PERILAKU
SIMPTOM FISIK
Self criticism
Kecemasan
Gagap, atau kesulitan
berbahasa lainnya

Otot mengeras
Kesulitan untuk
berkonsentrasi
atau membuat
keputusan
Mudah marah


Menangis, bertingkah
impulsif

Tangan dingin
atau berkeringat
Sering lupa atau
disorganisasi
mental
Takut
Tawa yang gugup

Sakit kepala
Takut gagal
Moody
Menggigit teman
Masalah dengan
leher atau
punggung
Pikiran yang berulang
Pemalu
Menggertakkan gigi, atau
menggenggam kuku
Gangguan tidur


Peningkatan prilaku
merokok, penggunaan alkohol
atau obat terlarang
Gangguan
pencernaan


Kecenderungan untuk lebih
sering mendapatkan
kecelakaan
Sering demam
atau infeksi


Peningkatan atau
pengurangan nafsu makan
Lelah



Nafas yang
cepat, jantung
berdegup keras



Gemetaran

 Faktor yang mempengaruhi Stres
Atkinson (1983) mengemukakan beberapa faktor yang menentukan berat tidaknya peristiwa yang penuh stres yang dialami seseorang, antara lain :

a. Kemampuan menerka
Kemampuan menerka timbulnya kejadian stres – walaupun yang bersangkutan tidak dapat mengontrolnya – biasanya mengurangi kerasnya stres. Penelitian menunjukkan bahwa orang lebih suka pada kejadian yang tidak menyenangkan tapi dapat diperkirakan daripada yang tidak dapat diperkirakan.

b. Kontrol atas jangka waktu
Kemampuan mengendalikan jangka waktu kejadian yang penuh stress juga mengurangi kerasnya stres. Kepercayaan bahwa kita dapat mengendalikan jangka waktu suatu kejadian yang tidak menyenangkan tampaknya dapat mengurangi perasaan cemas, sekalipun jika kendali itu tidak pernah dilaksanakan atau kepercayaan itu salah.

c. Evaluasi kognitif
Kejadian penuh stres yang sama mungkin dihayati secara berbeda oleh dua orang, tergantung pada situasi apa yang berarti kepada seseorang atas fakta-fakta itu. Penghayatan seseorang atas kejadian yang penuh stres juga melibatkan penilaian tingkat ancaman. Situasi yang ditanggapi sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup atau terhadap harga diri seseorang menimbulkan stres yang tinggi.



d. Perasaan mampu
Kepercayaan seseorang atas kemampuannya menganggulangi situasi penuh stres merupakan faktor utama dalam menentukan kerasnya stres. Jika seseorang tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi penuh stres, maka seseorang dapat kehilangan semangat.

e. Dukungan masyarakat
Dukungan emosional dan adanya perhatian orang lain dapat membuat orang tahan menghadapi stres. Faktor-faktor di atas, menentukan bagaimana intensitas kecemasan dan tingkat stres yang timbul dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi. Setiap orang mengalami stres dalam kapasitas dan cara yang berbeda. Dalam lingkup sekolah, siswa-siswi sekolah, walaupun menghadapi situasi yang sama, tapi tidak semuanya mengalami stres akademis.

Odgen (2000) mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang yang penting untuk dipahami berkaitan dengan stres, yaitu :
a. Efikasi Diri (Self Efficacy)
Merupakan perasaan keyakinan yang dimiliki individu bahwa mereka dapat bertindak sesuai yang diharapkan. Lazarus & Folkman (dalam Odgen, 2000) menyatakan bahwa self efficacy merupakan faktor yang cukup kuat untuk menengahi respon stres.
b. Hardiness
Merupakan perasaan kontrol individu terhadap kejadian, keinginan untuk menerima tantangan dan komitmen. Faktor ini mempengaruhi penilaian individu terhadap stresor yang dihadapi.
c. Mastery
Merupakan kemampuan individu untuk mengontrol respon stress mereka. Para peneliti (dalam Elkind, 2001) mengatakan, setidaknya ada lima kualitas yang menentukan seberapa baik cara seseorang mengatasi stres yang dialami, antara lain:


1. Kompetensi Sosial (Social Competence)
Anak yang kebal-stres memiliki kompetensi sosial yang baik. Mereka mudah bersahabat dengan teman sebaya ataupun orang dewasa, dan mampu membuat orang lain merasa nyaman bersama mereka.

2. Manajemen Impresi (Impression Management)
Anak yang kebal-stres mampu menampilkan diri mereka sebagai karakter yang menawan dan menarik. Mereka kelihatan sangat menyukai orang dewasa, karena merasa mereka dapat belajar banyak dari orang dewasa. Hal itu mengakibatkan orang dewasa mau menerima mereka dan menjadi mentor mereka.

3. Kepercayaan Diri (Self Confident)
Anak yang kebal-stres meyakini kemampuan yang mereka miliki dalam mengatasi situasi stres. Mereka melihat masalah mereka sebagai tantangan untuk diselesaikan daripada sebagai bukti ketidakmampuan mereka.

4. Kemandirian (Independence)
Anak yang kebal-stres adalah anak yang mandiri, dan tidak tergoyahkan oleh bujuk rayu apapun. Mereka berpikir untuk diri mereka sendiri dan tidak bisa dihalangi oleh kekuatan atau otoritas apapun. Mereka mampu menemukan tempat untuk mereka sendiri, dimana mereka
dapat menemukan ketenangan, kerahasiaan dan kesempatan menciptakan situasi yang mereka butuhkan.

5. Prestasi (Achievement)
Anak yang kebal-stres adalah anak yang produktif. Mereka mendapat nilai yang bagus, dan memiliki hobi (menulis puisi, seni ukir, seni lukis, seni pahat, dsb). Sebagian dari talenta dan kekuatan yang mereka miliki diarahkan untuk tugas yang paling penting, yakni untuk bertahan hidup (survival). Dari uraian teori di atas, dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat stres yang dialami beberapa individu dalam kondisi stress yang sama, antara lain faktor dari individu itu sendiri, dan faktor dari lingkungan berupa dukungan sosial.